Rekayasa Genetika dalam Pandangan Islam

KATA PENGANTAR
Rekayasa Genetika yang sengaja diangkat menjadi tema dalam salah satu perkuliahan Ilmu alamiah dasar adalah sebuah media yang ditujukan kepada para mahasiswa Syariah UIN Maliki Malang menjadikan para mahasiswa untuk melek teknologi. Dengan begitu pesatnya perkembangan yang terjadi, syariah ataupun hukum islam pun mengalami perkembangan dalam membahas segala perbuatan seorang hamba. Rekayasa genetika yang bertujuan mempermudah dan membantu manusia dalam segala bidang kehidupan tidaklah luput dari syariah. Manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apapun selagi itu perlu untuk dilakukan, apalagi untuk mempermudah kehidupan yang dijalani manusia. Namun, sebagai seorang mukallaf dan khalifah semua itu masih diperkenankan selama tidak menyalahi batas-batas manusia dalam bidang etika maupun agama.
            Ciri-ciri manusia adalah selalu ingin mengetahui rahasia alam, memecahkannya dan kemudian mencari teknologi untuk memanfaatkannya, dengan tujuan memperbaiki kehidupan manusia. Kualifikasi tanaman pangan, penangkaran ternak, dan perbaikan teknologi berburu atau mencari ikan adalah satu manifestasi ciri manusia tersebut. Semuanya dikembangkan dengan menggunakan akal, atau rasio, yang merupakan salah satu keunggulan manusia dibanding makhluk hidup lainnya. Sampai sekarangpun ciri watak manusia itu masih terus berlangsung. Satu demi satu ditemukan teknologi baru untuk memperbaiki kehidupan manusia agar lebih nyaman, lebih menyenangkan, dan lebih memuaskan.




DAFTAR ISI
Kata pengantar................................................................................................2
 Daftar isi .........................................................................................................3
Pendahuluan....................................................................................................4
Pembahasan....................................................................................................6
 Penutup .........................................................................................................11
Daftar pustaka.................................................................................................12


PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Rekayasa genetika yang digunakan manusia seluruhnya memiliki tujuan untuk membantu dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Semua itu dilakukan pada tanaman pangan, ternak ataupun hal lain yang dipelihara untuk menghasilkan produk yang lebih baik, lebih enak dan lebih banyak. Dikembangkan teknologi kawin silang, hibrida, cangkok, dan sebagainya untuk mencapai keinginan itu. Dengan ditemukannya alat-alat bantu yang lebih canggih, seperti misalnya mikroskop dan media pembiakan di laboratorium, semua hal yang mungkin di jadikan obyek rekayasa dikelola sedemikian rupa, entah itu dalam hal-hal yang besar ataupun hal-hal yang kecil.
            Dewasa ini rekayasa genetika dipandang berbeda oleh masyarakat. Ada yang memandang positif dan ada juga yang memandang negatif. Dan semua itu relatif dengan pemahaman etika dan moral yang ada di masyarakat.
            Jadi, makalah ini dibuat untuk membahas pengertian dan pandangan-pandangan yang ada dimasyarakat, dan lebih khususnya lagi pandangan Islam terhadap rekayasa genetika.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini kami mengangkat beberapa masalah yang mempertanyakan beberapa hal, diantaranya :
1.      . Apa itu rekayasa genetika ?
2.      . Bagaimana pandangan umum terhadap rekayasa genetika ?
3.      . Bagaimana pandangan islam terhadap rekayasa genetika ?
C. TUJUAN
Dari pertanyaan-pertanyaan yang ada, maka kami menyimpulkan dari beberapa sumber untuk bisa memberikan jawaban dan pemahaman akan :
1.      . Pengertian rekayasa genetika.
2.      . Pandangan umum terhadap rekayasa genetika.
3.      . Pandangan Islam terhadap rekayasa genetika.


PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN REKAYASA GENETIKA
 Genetika adalah kata yang dipinjam dari bahasa Belanda:genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics, dibentuk dari kata bahasa Yunani γέννω, genno, yang berarti "melahirkan". Genetika merupakan cabang biologi yang mempelajari pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Maka, dapat juga dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang gen dan segala aspeknya.
Sedangkan bidang kajian genetika dimulai dari wilayah subselular (molekular) hingga populasi. Dan secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan tentang :
          material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik),
• bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
• bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).[1]
Rekayasa atau biasa juga disebut dengan teknik adalah penerapan ilmu dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan manusia. Hal ini diselesaikan lewat pengetahuan, ataupun pengalaman dari trial dan error. Dan rekayasa juga mengalami perkembangan layaknya lomba lari estapet yang meneruskan teknologi generasi sebelumnya.
Maka, Rekayasa genetika dalam arti luas adalah teknologi dalam penerapan genetika untuk membantu masalah dan kepentingan apapun dari manusia. Dengan segala pengetahuan dan pengalaman dari trial dan error tersebut manusia dapat mengembangkan produk-produk yang bermanfaat bagi manusia itu sendiri.

B.     REKAYASA GENETIKA : PENERAPAN GENETIKA YANG BERKEMBANG

Charles Darwin dengan teori evolusinya menjadi seseorang yang pertama kali menyinggung variasi genetik di dalam bukunya the origin of species.
Tetapi istilah "genetika" pertama kali diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick yang juga ia gunakan pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906.
Perkembangan genetika terus terjadi baik itu dalam bidang genetika murni ataupun genetika terapan. Dan perkembangan dilakukan pertama kali oleh Gregor Mendel dengan menyilangkan tanaman pada 1985 yang biasa dikenal dengan "hukum pewarisan Mendel". Sebuah hukum yang mengenalkan konsep gen (Mendel menyebutnya 'faktor') sebagai pembawa sifat. Yang menyatakan bahwa setiap gen memiliki alel yang menjadi ekspresi alternatif dari gen dalam kaitan dengan suatu sifat. Setiap individu disomik selalu memiliki sepasang alel, yang berkaitan dengan suatu sifat yang khas, masing-masing berasal dari tetuanya. Status dari pasangan alel ini dinamakan genotipe. Dan apabila suatu individu memiliki pasangan alel sama, genotipe individu itu bergenotipe homozigot, apabila pasangannya berbeda, genotipe individu yang bersangkutan dalam keadaan heterozigot. Genotipe terkait dengan sifat yang teramati. Sifat yang terkait dengan suatu genotipe disebut fenotipe.[2]

Setelah penemuan karya Mendel tersebut, genetika berkembang sangat pesat. Perkembangan genetika sering kali menjadi contoh klasik mengenai penggunaan metode ilmiah dalam ilmu pengetahuan atau sains. Dan perkembangan tersebut terjadi dalam bidang genetika murni maupun terapan.

Tapi sayangnya, dewasa ini penerapan rekayasa genetika terkesan mengesampingkan etika bahkan agama. Perkembangan yang hanya mengedepankan akal yang berbasis Intellectual Quotient yang tidak diimbangi dengan berkembangnya emosi dan perasaan yang berbasis emosional quotient atau bahkan etika mukallaf yang berbasis Spiritual Quotient. Dan semua itu semakin menyeret manusia sendiri pada runtuhnya nilai-nilai peradaban.
 Perkembangan rekayasa genetika yang juga mewakili perkembangan teknologi ini pun tidak akan dapat dihentikan. Sebab, di samping perkembangan sains juga begitu pesat, teknologi itu sendiri menjadi kebutuhan manusia karena hasil-hasil yang dicapai sangat bermanfaat bagi peningkatan mutu hidup manusia.
Berbagai macam manfaat yang telah diperoleh misalnya kloning pada tanaman dan hewan adalah untuk memperbaiki kualitas tanaman dan hewan, meningkatkan produktivitas, dan mencari obat alami bagi penyakit-penyakit kronis, menggantikan obat-obatan kimiawi yang dapat menimbulkan efek samping terhadap kesehatan manusia. Tetapi, dampak buruk yang terjadi juga tidak bisa dinafikan, karena memang keduanya terbukti nyata.
Maka dari itu, agar teknologi rekayasa genetika yang memiliki dua sisi ini tidak menjadi liar, yang berimplikasi pada pelecehan martabat kemanusiaan dan nilia-nilai Ilahiyah, maka perlu penjagaan dengan etika. Etika di sini bisa berarti kesadaran moral manusia untuk senantiasa mendasari setiap tindakan teknologinya dengan nilai-nilai atau kesadaran filter dalam setiap gagasan yang dicoba akan dikembangkan.

C.    PANDANGAN ISLAM TERHADAP  REKAYASA GENETIKA
            Islam, menganjurkan kita untuk selalu menggunakan akal dalam memahami agama. Islam adalah agama yang menghormati akal, Islam menghimbau kepada seluruh manusia untuk mengetahui dengan benar akan keesaan Allah, dan semua itu hanya bisa dibangkitkan dengan menggunakan potensi akal sebaik mungkin. Karena pemahaman yang benar hanya tercipta jika manusia menggunakan akal tersebut untuk berfikir dengan cara yang benar.
Dengan akal tersebut manusia dapat meneliti dan memahami bagaimana hakikat dari alam yang telah diciptakan oleh Allah Swt.
(إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ اْلأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ َلآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ) البقرة : 164
Dalam hadits yang masyhur pun dinyatakan bahwa Rasulullah Saw menganjurkan kita untuk menuntut ilmu bahkan sampai ke negeri Cina sekalipun.
Dan Allah juga menganjurkan kita untuk terus membaca dan mempelajari apa yang di temukan oleh manusia.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) –العلق-
Dari semua itu, selain belajar dan memahami suatu ilmu, islam pun sangat menekankan pada implikasi dari ilmu tersebut, karena ilmu tersebut ada untuk memudahkan dan meningkatkan kulaitas hidup manusia itu sendiri. Sebagaimana dalam pepatah dinyatakan.
العلم بلا عمل كاالشجر بلا ثمر
Secara ontologi, keberadaan ilmu dan agama saling bergantung sama lain. Secara epistemologis, hubungan ilmu dan agama saling melengkapi satu sama lain. Sementara secara aksiologis seluruh nilai kebenaran, kebaikan, keindahan dan keilahian saling mengkualifikasi satu dengan yang lain.[3] Maka, peran agama dalam teknologi rekayasa genetika ini menjadi "pengendali" ataupun penuntun ilmu yang berbasis akal agar tidak menyalahi aturan-aturan sebagai manusia itu sendiri. Untuk mewujudkan semua itu, agama harus ikut berkembang seiring berkembangnya teknologi dan ilmu apapun.
Dalam buku ushul fiqh Syatibi juga dinyatakan bahwa yang bersifat dharuri (penting) ada lima, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Oleh karena itu, untuk menuntun teknologi rekayasa genetika tersebut harus bisa memenuhi tuntutan kepentingan kepentingan yang ada, dan selama teknologi tersebut memenuhi syarat kepentingan dalam islam, maka teknologi tersebut dibenarkan.


PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Dari makalah diatas dapat kami simpulkan beberapa poin :
1.      Rekayasa Genetika adalah penerapan genetika yang bertujuan untuk membantu dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
2.      Pandangan umum terhadap rekayasa genetika menginginkan kepuasan yang tanpa batas dengan merekayasa apapun yang ada untuk memenuhi kebutuhan manusia, tanpa mengindahkan etika ataupun moral.
3.      Pandangan islam terhadap rekayasa genetika relatif dengan tujuan dari rekayasa tersebut, selama rekayasa tersebut penting dan tidak melampaui batasan agama dan etika.


REFERENSI
         http://in.wikipedia.org/wiki/genetika
         http://in.wikipedia.org/wiki/teknik_rekayasa
         http://in.wikipedia.org/wiki/rekayasa_genetika
         http://www.ptiq.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=88&Itemid=34
         http://pojokkata.wordpress.com/2007/08/03/
         http://fai.uhamka.ac.id/post.php?idpost=35
         http://www.khilafah1924.org/index.php?option=com_content&task=view&id=78&Itemid=47
         http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1413


[1]. http://in.wikipedia.org/wiki/genetika
[2]. Ibid.
[3]. http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1413